Pemerhati Hubungan Internasional Khairi Fuady
Jakarta – Pemerhati Hubungan Internasional Khairi Fuady menilai bahwa langkah-langkah strategis di awal pemerintahan Presiden Prabowo sejak baru dilantik menggambarkan secara terang benderang tentang jati diri Bangsa Indonesia yang menganut falsafah seribu kawan terlalu sedikit dan satu lawan terlalu banyak.
Bahkan di awal-awal pemerintahan Presiden Prabowo sudah menghadiri berbagai forum dunia yang akan menjadi jembatan menambah banyak hubungan persahabatan kepada semua negara-negara dan bangsa di dunia.
“Polgri (politik luar negeri) kita ini berkali-kali Pak Prabowo mengatakan thousand friend is to few, one enemy is to many. Politik luar negeri kita memang bebas, aktif determinan, ” Ujar Fuady.
Oleh sebab itu, menurutnya setiap kali Indonesia hadir dalam forum, termasuk KTT BRICS yang anggotanya Brazil, Rusia, Indonesia, China, Afrika Selatan adalah bukan tentang negara kita ikut mengambil keputusan.
Akan tetapi, forum-forum dunia ini adalah jembatan untuk menjalin pertemanan dan kerjasama, karena Indonesia memang menganut politik luar negeri bebas aktif.
“Ada poin lain sebenarnya. Pertama Indonesia ingin menunjukkan eksistensinya. Kedua, Indonesia secara tersirat ingin menyampaikan pesan bahwa kita (Indonesia) siap untuk menjadi juru bicara Negara Selatan Selatan Di BRICS ini, ” ungkap Khairi Fuady yang merupakan tokoh pemuda dari Kalimantan Selatan ini.
Saat ini Khairi Fuady juga konsen mengawal dan mendampingi anak-anak mahasiswa dari lintas kampus di Jakarta yang menginisiasi lahirnya sebuah forum Indonesia South South Foundation yang bergerak dalam lingkup problematika yang dihadapi negara selatan-selatan atau negara dunia ketiga.
Problematika negara selatan-selatan ini di antaranya tentang konflik kawasan, transisi energi, sustainable development, dan sebagainya.
Kerjasama Selatan-Selatan adalah istilah historis yang digunakan oleh para pembuat kebijakan dan akademisi untuk menggambarkan pertukaran sumber daya, teknologi, dan pengetahuan antara negara-negara berkembang yang juga dikenal sebagai negara-negara Selatan global. Kerjasama ini mengacu pada proyek sejarah jangka panjang pembebasan masyarakat dan bangsa dari sisa-sisa kolonialisme, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan.
Kerjasama ini menjadi konsep pengorganisasian utama dan serangkaian praktik dalam mencapai perubahan historis melalui visi saling menguntungkan dan solidaritas di antara kelompok yang dapat dikatakan ‘kurang beruntung’ dalam sistem dunia. Hal ini menyampaikan harapan bahwa kerjasama melalui sektor pembangunan dapat dicapai oleh masyarakat ‘kurang beruntung’ ini melalui bantuan timbal balik mereka satu sama lain, dan seluruh tatanan dunia diubah untuk mencerminkan kepentingan bersama mereka dari dominasi negara-negara Utara
Kerjasama Selatan-Selatan dilakukan melalui kerangka kerja sama yang luas antara negara-negara Selatan dalam ranah politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan teknis. Melibatkan dua atau lebih negara berkembang, kerja sama ini dapat berlangsung secara bilateral, regional, intraregional, atau interregional. Melalui kerja sama Selatan-Selatan, negara-negara berkembang berbagi pengetahuan, keterampilan, keahlian, dan sumber daya untuk mencapai tujuan pembangunan mereka melalui upaya bersama.(bud/MBS)





